KONSERVASI ARSITEKTUR

30 Jun

Sandra Desnia E.P

4TB02

26312808  

 

 Kawasan Kota Tua di Braga, Bandung

A. Pendahuluan

(Kawasan Kota Tua Bandung Jaman Dulu)

(Peta Jalan Braga Tempo Dulu)

Bandung memang tidak memiliki kompleks kota tua seperti di Jakarta atau Semarang. Namun mengingat usia kota Bandung yang juga relatif muda dibandingkan dengan Jakarta atau Semarang misalnya, maka tak heran bila peninggalan-peninggalan tua berupa bangunan di Bandung tak banyak yang berumur lebih dari satu abad. Dari jumlah yang sedikit ini, sebagian besar tampaknya kurang terurus, dalam keadaan kosong dan tampak kumuh. Sangat disayangkan bila penelantaran seperti ini dibiarkan berlangsung terus sehingga secara perlahan gedung-gedung itu rusak dimakan waktu, dan tentunya memunculkan alasan-alasan untuk kemudian merubuhkannya sekalian, seperti yang sudah sering terjadi.

Pada peringatan HUT KAA ke 60, Walikota Bandung, Ridwan Kamil berkeinginan untuk mempromosikan Kota Bandung dengan menonjolkan beberapa lokasi Kota Tua Bandung yang tersebar diberbagai daerah. Kota Tua Bandung meliputi ; Kawasan Braga, Lembong, Tamblong, dan  Kebon Kawung.

(Jalan Braga | Google)

Jalan Braga sebagai salah satu tujuan wisata di Kota Bandung tampaknya semakin populer belakangan ini, sebagai salah satu kawasan Kota Tua. Di banyak situs internet berupa weblog dapat dengan mudah kita temui tulisan-tulisan ringan mengenai ruas jalan yang panjangnya hanya sekitar setengah kilometer ini. Kebanyakan tulisannya bercerita tentang kesan para penulisnya berjalan-jalan di kawasan Braga. Sebagian lain sedikit lebih serius dengan menyampaikan juga data-data sejarah yang berkaitan dengan perkembangan modern Jalan Braga sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini.

Jalan yang cukup populer di Kota Bandung ini rupanya telah populer sejak masa Belanda. Bahkan dari jalan ini pula julukan Paris Van Java dan juga Kota kembang melekat untuk kota Bandung. Gedung-gedung tuanya maish berdiri dengan kokoh di kanan-kiri jalan. Bahkan travelers masih bisa menjumpai roti khas Belanda di zaman dulu di Toko Roti Sumber Hidangan yang telah ada sejak tahun 1900-an.

jalanbraga

Jalan Braga sebelum abad ke-20 hanyalah jalanan becek dan berlumpur yang sering dilalui oleh pedati pengangkut kopi dari koffie pakhuis (di lokasi Balaikota sekarang) yang menuju Grote Postweg (Jalan Asia-Afrika sekarang). Itulah sebabnya di masa lalu Jalan Braga dikenali dengan nama karrenweg atau pedatiweg. Menjelang berakhirnya abad ke-19, Jalan Braga mengalami berbagai perkembangan seiring dengan pembangunan Kota Bandung secara umum.

Memasuki dekade pertama abad ke-20, kawasan Braga perlahan menjadi semacam pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Bandung, terutama para Preangerplanters yang biasanya berdatangan ke Bandung setelah seminggu penuh mengelola perkebunan mereka di luar kota Bandung. Para pekebun yang datang ini ada yang dari Jatinangor, Sumedang, Pangalengan, Ciwidey, Rajamandala, dan berbagai kawasan perkebunan lainnya yang tersebar di Priangan. Mereka sengaja datang untuk berbelanja, bersantai dan menghibur diri dengan berbagai fasilitas yang tersedia di Bandung saat itu.

Pertunjukan musik, rumah-bola, bioskop, dan toko adalah tempat-tempat utama yang mereka kunjungi. Sambil bersantai mereka juga berbelanja berbagai keperluan sehari-hari mereka di toko serba ada yang terdapat di ujung selatan Jalan Braga, yaitu Toko de Vries (sebelah barat Hotel Homann). Untuk menikmati suasana, atau pertunjukan musik, tersedia sebuah tempat favorit, Societeit Concordia (sekarang kompleks Gedung Merdeka). Tempat ini dikenal mahal dan bergengsi oleh karenanya tidak semua warga Eropa juga dapat menikmatinya. Bagi kaum pribumi lebih mengenaskan, karena untuk sekadar melihat kegiatan di dalamnya pun tidak dapat dilakukan secara terang-terangan, paling-paling dengan pandangan sambil lalu saja.

Untuk memenuhi kebutuhan sandang, para preangerplanters mendapatkannya dari sejumlah toko di ruas Jalan Braga yang saat itu sudah dikenal dengan nama Bragaweg. Berbagai mode pakaian, perhiasan, dan aksesoris tubuh lainnya tersedia di toko-toko yang mulai bermunculan di ruas Bragaweg. Toko pertama yang berdiri adalah toko kelontong milik Hellerman, yang kemudian disusul oleh berbagai toko dan perusahaan lain dengan andalan jualan yang yang lebih spesifik seperti de Concurrent untuk perhiasan, Au Bon Marcheuntuk pakaian, dan Maison Bogerijen untuk makanan. De Concurrent hingga sekarang masih dapat ditemui di Jalan Braga, dan barang yang ditawarkannya pun relatif masih sama, perhiasan. Sedangkan Maison Bogerijen sudah berganti rupa namun masih tetap beroperasi sebagai restoran dengan nama Braga Permai.

Winkelstraat-Bandoeng-1900-1940

(Jalan Braga Jaman Dulu| Google)

Sejumlah usulan tentang revitalisasi Jalan Braga sudah pernah diungkapkan masyarakat melalui berbagai media, salah satunya adalah dengan menjadikan Jalan Braga sebagai sentra FO, distro, atau pusat perbelanjaan yang bergengsi seperti di masa lalu. Atau mencontoh yang sudah dilakukan oleh beberapa kota besar di Indonesia, dengan menjadikannya sebagai kawasan wisata kota tua.

P1260051         P1260049

Sebagai kawasan wisata kota tua, maka penampilan sebagian besar gedung perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar dapat membawa pengunjung ke suasana khas yang hanya bisa didapatkan di Jalan Braga. Gedung-gedung yang kosong dan kumuh diperbaiki dan difungsikan kembali agar dapat benar-benar hidup di siang hari mengimbangi  suasana malam yang saat ini sudah lebih dulu dinamis oleh keberadaan beberapa pub, café, dan tempat hiburan lainnya. Bila karena alasan teknis tertentu, gedung tak bisa difungsikan, paling tidak gedung tersebut bisa berada dalam keadaan terawat dan bersih. Mungkin baik pula bila di depan gedung-gedung tertentu dibuatkan plakat besi atau marmer dengan keterangan ringkas tentang sejarahnya, atau paling tidak, tahun pendirian dan nama arsiteknya.

 Animo masyarakat yang besar juga menghasilkan rejeki bagi para penjaja makanan di sekitar jalan Braga. Untuk mengisi perut yang keroncongan, Anda bisa memilih menikmati makanan di pinggir jalan Braga, mulai dari pedagang kaki lima, kafe, restoran, maupun bar semua ada di Braga. Saya sempat mampir mengunjungi French Bakery, salah satu bakery tua yang berdiri sejak tahun 1978 dan mampu bertahan hingga sekarang. Waw! Suatu prestasi yang wajib diacungi jempol. Walaupun bernama French Bakery, namun toko roti ini menjual aneka roti manis asal Taiwan yang lekat dengan lidah Asia, mulai dari isi keju, cokelat, sosis, jagung, dan lain sebagainya.
     Dengan segudang hiburan dan suasana yang ditawarkan di Braga, membuat kawasan ini menjadi destinasi untuk para pelancong yang ingin menghabiskan waktu di kota Bandung, termasuk bagi para wisatawan. Braga memang surga bagi para pembidik kamera.

B. Telaah Pustaka

  • Kawasan
     Seperti yang sudah dijelaskan sekilas pada sub-teori wilayah, Kawasan merupakan wilayah dalam batasan fungsional tertentu. Menurut Undang-undang No. 26 pada tahun 2007 mendefinisikannya sebagai wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
     Pengertian lain kawasan adalah daerah sekitar atau lingkungan, bagian dari wilayah yang digunakan untuk suatu fungsi tertentu, misalnya dalam suatu wilayah pedesaan terdapat kawasan perkampungan, kawasan pertanian, atau kawasan kehutanan.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas:
     Kawasan (dari bahasa Jawa Kuna: kawaśan, yang berarti daerah waśa, dari bahasa Sanskerta: “memerintah”) artinya daerah yang memiliki ciri khas tertentu atau berdasarkan pengelompokan fungsional kegiatan tertentu, seperti kawasan industri, kawasan perdagangan, dan kawasan rekreasi. Misalnya: “Kebayoran Baru merupakan ‘kawasan’ perumahan elite.”
     Contoh kawasan antara lain: Kawasan Lindun-Kawasan Budidaya dalam suatu wilayah provinsi; Kawasan Perkotaan-Kawasan Pedesaan dalam suatu wilayah kabupaten; Kawasan Perumahan, Kawasan Pusat Kota, dan Kawasan Industri dalam suatu kota.
     Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.

Adapun jenis-jenis istilah kawasan dalam Penataan Ruang, adalah sebagai berikut  :
1. Kawasan lindung
2. Kawasan budi daya
3. Kawasan perdesaan
4. Kawasan agropolitan
5. Kawasan perkotaan
6. Kawasan metropolitan
7. Kawasan megapolitan
8. Kawasan strategis
9. Kawasan strategis nasional
10. Kawasan strategis provinsi
11. Kawasan strategis kabupaten/kota
12. Ruang terbuka hijau

 

  • Kota-Tua

Menurut Branch (1996: 2) Kota diartikan sebagai tempat tinggal dari beberapa ribu atau lebih penduduk, sedangkan perkotaan diartikan sebagai area terbangun dengan struktur dan jalan-jalan, sebagai suatu permukiman terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu (Branch, 1996:2). Dalam pengertian lain kota adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, yang sebagian besar lahannya terbangun dan perekonomiannya bersifat non pertanian.

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota, kota adalah permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kekotaan. Sedangkan perkotaan adalah satuan kumpulan pusat-pusat permukiman yang berperan di dalam suatu wilayah pengembangan dan atau Wilayah Nasional sebagai simpul jasa.

Dalam Inmendagri nomor 34 tahun 1986 tentang Pelaksanaan Permendagri nomor 7 tahun 1986 tentang Batas-batas Wilayah Kota Di Seluruh Indonesia, ciri-ciri wilayah kota dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek sosial ekonomi.
Dilihat dari aspek fisik, maka wilayah kota mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ;

  1. Tempat permukiman penduduk yang merupakan satu kesatuan dengan luas, jumlah bangunan, kepadatan bangunan yang relatif lebih tinggi daripada wilayah sekitarnya;
  2. Proporsi bangunan permanen lebih besar di tempat itu daripada di wilayah-wilayah sekitarnya;
  3. Mempunyai lebih banyak bangunan fasilitas sosial ekonomi (sekolah, poliklinik, pasar, toko, kantor pemerintah dan lain-lain) daripada wilayah sekitarnya.

 

Kota-kota secara umum dapat dibedakan berdasarkan fungsi kota maupun untuk kepentingan perumusan kebijakan perencanaan.  Berdasarkan fungsinya, menurut Sujarto (1989) kota di Indonesia dapat dikelompokan menjadi ;

  • kota pusat pemerintahan,
  • kota pusat perdagangan,
  • kota pusat lalu lintas dan angkutan.

 

Jadi dalam hal ini, Kota Tua merupakan area terbangun dengan struktur dan jalan-jalan, sebagai suatu permukiman terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan kekotaan namun dalam hal ini kota sudah berumur sangat lama dan bersejarah.

C. Gambaran Kawasan

Kawasan Kota Tua Bandung

(Kawasan Kota Tua Bandung | Foto : niqadrian(dot)blogspot(dot)com)

Setelah Bandung “dandan” pada perhelatan Konferensi Asia Afrika beberapa waktu yang lalu, ada banyak perubahan yang terjadi di kawasan terselenggaranya hajat internasional ini. Selain kawasan kota tua Bandung tersebut kian cantik, berbagai fasilitas publik pun kian menyebar di seluruh kawasan yang dulunya terbengkalai.

Bangunan Tua di Jalan Braga  Bangunan Tua di Braga (1)

Bangunan Tua di Braga (2)    Bangunan Klasik di Jalan Braga

(Bangunan Tua di Jalan Braga| http://www.kusnendar.web.id)

Jika melihat lagi ke belakang, tentu sekitar kota tua Bandung yang meliputi, Jalan Asia Afrika, Jalan Braga, dan jalan-jalan di sekitarnya ini terkesan dibiarkan bergitu saja. Jalanan kota tua ini hanya dijadikan sebuah lintasan yang banyak dilewati. Tapi, setelah jalanan kota tua yang telah di dandani, kawasan tersebut menjadi sebuah wisata baru yang berada di pusat kota.

Kota Tua Bandung yang Ramai Pengunjung

(Kota Tua Bandung yang Ramai Pengunjung | Foto : instagram(dot)com/discoverbandung)

(Suasana sore Kota Bandung | Google)

Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di kota tua tersebut. Bahkan, hampir setiap hari jalanan di pusat kota tersebut tidak pernah sepi dikunjungi. Di akhir pekan pun, kawasan ini menjadi tempat tujuan wisata baru yang menarik perhatian. Selain murah, tempat ini juga terletak di pusat kota yang tentunya menjadi pusat hingar bingar kota.

dsc_0207-copy

(Keadaan Kota Tua saat ramai pada masa kini)

Jalan yang bersejarah dan jalan yang spesial, terlihat dari jalannya yang menggunakan batu alam karena diperlakukan spesial. Banyak kehidupan malam di sekitar jalan ini dan pada waktu tertentu akan ada braga culinary festival.

Terdapat toko-toko dan resto dengan bangunan kuno, bahkan beberapa masih bertahan dengan ‘kejadulannya’. Banyak wisatawan menjadikan jalan Braga sebagai tempat untuk foto-foto. Jalan yang sangat bersejarah, dengan gedung gedung tua di kanan kiri jalan.

Berikut ini beberapa perubahan yang terjadi di kota tua Bandung;

Jalan Braga

(Jalan Braga | Foto : geishatraveling(dot)blogspot(dot)com)

Sejak dulu, Jalan Braga memang dikenal sebagai kawasan kota tua di Bandung. Sejarahnya, jalan ini dulu menjadi pusat kota yang terkenal dikalangan para pendatang dari Eropa dan Belanda. Hingga saat ini, banyak wisatawan yang berkunjung dan tidak melewatkan untuk sekedar berjalan-jalan di kota tua Bandung tersebut.

Tidak ketinggalan, Jalan Braga ini juga ikut didandani dan memiliki wajah baru. Beberapa kali memang kawasan ini dilakukan renovasi, mulai dari trotoar jalan yang sempat tersendat pengerjaannya karena tidak sesuai jadwal, parkir elektronik yang menjadi suatu kemajuan dibidang transportasi, dan juga pengecetan bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan karena kurang perawatan. Semua renovasi tersebut memang dilakukan untuk mempercantik kawasan di kota tua tersebut.

Tugu Braga di Bandung

(Tugu Braga di Bandung | Foto : m(dot)galamedianews(dot)com)

Hal tersebut tidak berhenti sampai disitu, tidak puas dengan renovasi yang dilakukan, pemkot Bandung juga menambahkan Tugu Braga yang terletak di dekat Gedung BJB Bandung. Tugu ini berisi tatanan huruf yang bertuliskan BRAGA dengan jenis huruf yang unik.

Banyak wisatawan yang menyempatkan diri untuk mengunjungi taman baru di Kota Bandung tersebut. Selain ingin menikmati nuansa baru di kawasan kota tua, taman ini juga dapat menjadi tujuan wisata menarik dan menjadi spot untuk berfoto yang tentunya sangat sayang dilewatkan.

(Bangunan arsitektur lama di Jalan Braga)

(Pedagang lukisan di Jalan Braga (2010))

Pada lingkungan, di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Di antara pertokoan tersebut yang masih mempertahankan ciri arsitektur lama adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Model tata letak jalan dan gedung gedung pertokoan dan perkantoran yang berada di Jalan Braga juga terlihat pada model jalan-jalan lain di sekitar Jalan Braga seperti Jalan Suniaraja (dulu dikenal sebagai Jalan Parapatan Pompa) dan Jalan Pos Besar (Postweg)(‘sekarang Jalan Asia-Afrika’) yang dibangun oleh Gubernur JendralHerman Willem Daendels pada tahun 1811, di depan Gedung Merdeka.

 

Berikut ini adalah keadaan suasana Kota Tua di Jalan Braga pada siang hari dan malam hari:

Suasana Pagi di Jalan Braga   Trotoar Jl Braga

Lukisan di Jl Braga

(Suasana Kota Tua di Jalan Braga pada siang hari)

Suasana Malam di Braga   Restoran di Jalan Braga

(Suasana Kota Tua di Jalan Braga pada malam hari)

 

D. Usulan Penanganan Pelestarian

Kawasan Braga dengan sebagian besar bangunannya masih merupakan bangunan lama dan kebesaran nama yang pernah disandangnya merupakan potensi yang dapat mendatangkan wisatawan, terutama wisatawan dengan minat khusus yaitu wisata nostalgia atau wisata sejarah, wisata belanja, wisata kuliner dan wisata pendidikan. Banyak wisatawan yang datang ke Braga, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing tujuannya ingin menikmati keindahan dan kemegahan bangunan di kawasan yang dahulunya pernah menyandang nama besar sebagai kawasan belanja eksklusif khusus bagi warga kota keturunan Eropa. Selain itu, tidak sedikit mahasiswa dan pelajar yang datang ke Kawasan Braga untuk mempelajari arsitektur gedung tua di sepanjang jalan tersebut. Kondisi ini merupakan potensi yang dimiliki Kawasan Braga dan tidak dimiliki kawasan lainnya di Bandung, sehingga perlu pemeliharaan bangunan-bangunan tua agar tidak hancur dimakan usia serta perlunya penggalian berbagai ide kreatif yang sesuai dengan kondisi Braga.

  • Ada beberapa tempat yg memang kurang terurus

Harus lebih diperhatikan, dandilestarikan tempat-tempatnya oleh semua warga Bandung dan penikmat Jalan Braga dan disekitar kawasan kota tua, agar tidak kotor dan tetap lestari.

  • Memperbanyak tempat sampah

Perbanyak tempat sampah juga salah satu upaya pelestarian daerah Kota Tua jalan braga. Disamping, menjaga kebersihan juga mengurangi dan mengingatkan pengunjung untuk membuang sampah di tempatnya

  • Penataan lalu lintas

Sebagai akses ke utara Bandung dari kawasan pusat kota menjadikan ruas jalan Braga sebagai kawasan yang padat. Penataan tata lalu lintas di kawasan ini perlu mendapat perhatian sehingga dapat dijadikan sebagai kawasan Pedestarian yang memberi kenyamanan kepada pejalan kaki dalam menikmati keindahan dan kemegahan gedung-gedung tua sepanjang Braga yang berdiri kokoh menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Bandung. Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke Braga. Jika harapan tersebut dapat terwujud maka julukan sebagai Jalan Intelek (Jalan Kelas Utama) akan kembali melekat pada Jalan Braga serta kembali menjadi ikon bagi wisata belanja dan wisata kota tua kebanggan Bandung.

  • Tetap memperbaharui dan merawat bangunan tua bersejarah

Tetap memperbaharui bangunan Tua juga merupakan upaya pelestarian. Memperbagus bangunan dengan membersihkan dan mengganti cat namun dengan warna yang sama dan tidak menghilangkan ciri khas bangunan tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

https://sebandung.com/2015/05/perubahan-kawasan-kota-tua-bandung-dulu-dan-sekarang/

https://mooibandoeng.com/2013/10/25/braga-sebagai-kawasan-wisata-kota-tua-di-bandung/

http://www.basilicha.com/2013/05/kota-tua-di-bandung-its-braga.html

https://prezi.com/nlx5czd0wcux/perencaan-oengembangan-kota-tua-sejarah-dan-wisata-kuline/

Eko Sujatmiko, Kamus IPS , Surakarta: Aksara Sinergi Media Cetakan I, 2014 halaman 134

Branch, Melville C. 1996. Perencanaan Kota Komprehensif Pengantar dan Penjelasan. Terjemahan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

https://direktori-wisata.com/wisata-di-jalan-asia-afrika-bandung/

https://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Braga

http://www.kusnendar.web.id/2013/07/jalan-braga-serasa-suasana-kota-paris-di-bandung.html

Sunarwibowo, Anton. 2010. “Revitalisasi Kawasan Jalan Braga sebagai Kawasan Strategis Kota Bandung”. Makalah pada Seminar Pelestarian Kawasan Kota Lama Braga. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Bandung (20-04-2010

Perubahan Kawasan Kota Tua Bandung Dulu dan Sekarang

Kawasan Kota Tua Bandung

Setelah Bandung “dandan” pada perhelatan Konferensi Asia Afrika beberapa waktu yang lalu, ada banyak perubahan yang terjadi di kawasan terselenggaranya hajat internasional ini. Selain kawasan kota tuaBandung tersebut kian cantik, berbagai fasilitas publik pun kian menyebar di seluruh kawasan yang dulunya terbengkalai.

Jika melihat lagi ke belakang, tentu sekitar kota tua Bandung yang meliputi, Jalan Asia Afrika, Jalan Braga, dan jalan-jalan di sekitarnya ini terkesan dibiarkan bergitu saja. Jalanan kota tua ini hanya dijadikan sebuah lintasan yang banyak dilewati. Tapi, setelah jalanan kota tua yang telah di dandani, kawasan tersebut menjadi sebuah wisata baru yang berada di pusat kota.

Kota Tua Bandung yang Ramai Pengunjung

Banyak perubahan-perubahan yang terjadi di kota tua tersebut. Bahkan, hampir setiap hari jalanan di pusat kota tersebut tidak pernah sepi dikunjungi. Di akhir pekan pun, kawasan ini menjadi tempat tujuan wisata baru yang menarik perhatian. Selain murah, tempat ini juga terletak di pusat kota yang tentunya menjadi pusat hingar bingar kota.

Berikut ini beberapa perubahan yang terjadi di kota tua Bandung;

Jalan Asia Afrika

Jl. Asia Afrika

Jalan Asia Afrika merupakan jalan yang menjadi jalur menunju pusat Kota Bandung. Jalan ini terkenal sebagai jalan yang bersejarah di Bandung. Letaknya yang  berada tepat di pusat kota, membuat jalan ini banyak dilewati.

Seperti yang sudah banyak diketahui, jalan ini merupakan jalan yang menjadi tempat terselenggaranya pesta berskala internasional, yaitu Konferensi Asia Afrika. Di tempat ini jugalah berdiri gedung-gedung yang dulunya digunakan untuk menggelar pesta tersebut. Tidak hanya itu, beberapa gedung tua yang berdiri di kawasan jalan tersebut juga menjadikan kawasan tersebut terkenal dengan sebutan kota tua.

Jalan Asia Afrika Sebelum Dilakukan Revitalisasi

Jika dulu, kawasan ini hanya sering dijadikan tempat persimpangan, hal ini berbeda saat ini. Kini, Jalan Asia Afrika banyak mengalami perubahan. Perubahan ini tidak main-main, banyak penambahan ornamen dan juga fasilitas yang membuat banyak warga betah berlama-lama di kawasan kota tua Bandung ini.

Bisa dilihat dari adanya kursi-kursi bergaya klasik yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Kursi-kursi yang merupakan hasil dari dana sumbangan pengusaha di Bandung ini ditata rapi di sepanjang Jalan Asia Afrika, mulai dari Hotel Preanger hingga POS besar polisi di wilayah alun-alun Bandung.

Wajah Baru Jalan Asia Afrika Bandung

Tidak hanya kursi-kursi klasik, di sepanjang jalan kota tua Bandung ini juga terdapat beberapa pot bunga besar yang menghiasi trotoar. Ada juga bola-bola granit besar yang bertuliskan nama-nama negara yang tergabung dalam Konferensi Asia Afrika. Sama halnya dengan pot dan kursi-kursi, bola-bola ini juga menjadi pelengkap dari jalanan kota tua di Bandung.

Lampu Penerang Jalan ala Praha

Keindahan wajah baru kawasan Jalan Asia Afrika juga semakin semarak dengan adanya lampu penerangan jalan yang dibuat berbeda. Lampu-lampu penerangan jalan ini didesain dari besi-besi yang dibentuk menyerupai tanaman yang merambat. Lampu penerangan jalan pun didesain menyerupai lampu-lampu jalanan yang ada di Praha. Tidak hanya bermanfaat menerangi jalanan, lampu ini juga dapat memanjakan wisatawan yang ingin berfoto ria di sekitar tempat tersebut.

Kawasan Asia Afrika Bandung Terdahulu

Tentu, menjadi pemandangan yang berbeda jika kita melihat Jalan Asia Afrika sebelumnya. Dulu, sebelum dilakukannya revitalisasi, jalan ini hanya menjadi jalan pusat kota. Jalan trotoar pun dibuat biasa, hanya dilapisi keramik dan tidak ada penambahan lainnya.

Tidak heran jika dulu, jalanan di sekitar pusat Kota Bandung ini tidak banyak dikunjungi. Hanya di sekitaran Gedung Merdeka yang ramai dikunjungi wisatawan. Biasanya, para wisatawan berfoto di depan gedung bersejarah tersebut dan menjadi tempat berkumpul beberapa komunitas anak muda di Bandung.

Jalan Cikapundung Timur

Jalan Cikapundung Dulu

Jalan Cikapundung Timur berada tepat di samping Gedung Museum Konferensi Asia Afrika Bandung yang merupakan kawasan kota tua. Jalan yang menjadi jembatan dari aliran Sungai Cikapundung ini mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Jika dulu, kawasan jalan yang menghubungkan Jalan Braga ini seakan terbengkalai dan tidak terawat, sekarang ini menjadi berbeda. Dulu, kawasan ini hanya digunakan oleh para pedagang Koran atau majalah sebagai tempat menjejerkan dagangannya atau sebagai pusat loper koran. Kini, kawasan tersebut disulap menjadi sebuah kawasan yang ramai dikunjungi.

Kawasan Cikapundung Timur

Lantai trotoar yang dulunya hanya dibuat dari keramik, kini seluruh jalannya dibuat dari batu granit yang dibentuk sedemikian rupa. Tidak hanya itu, di kawasan ini juga dilengkapi dengan adanya karya seni grafis dalam bentuk kotak-kotak besar yang didalamnya tersedia tempat duduk. Selain unik, box-box ini juga multifungsi.

WPAP KAA Di Bandung

Box-box yang dikenal sebagai WPAP atau Wheda Pop Art Potrait ini dibuat dalam beberapa bentuk. Ada dalam bentuk box yang juga dimanfaatkan sebagai tempat duduk yang sejuk. Ada juga WPAP yang berbentuk patung-patung tokoh-tokoh negara peserta Konferensi Asia Afrika dan juga tokoh-tokoh pemerintah Kota Bandung, seperti Ridwan Kamil dan lainnya.

Plaza Air Mancur

Ada juga Plaza Air Mancur yang membuat semarak jalanan yang dulunya digunakan pusat loper Koran. Plaza air mancur ini akan lebih indah jika dilihat di malam hari. Air-air yang keluar akan berubah warna-warna sesuai cahaya yang berasal dari lampu pemancarnya.

Kawasan Cikapundung Timur

Selain Plaza Air Mancur, ada juga kursi-kursi klasik yang sama dengan kursi yang berada di Jalan Asia Afrika. Kursi-kursi ini ditata rapi di di sepanjang jalan yang bisa dimanfaatkan oleh wisatawan yang ingin beristirahat. Lampu-lampu penerang jalan pun tidak lepas dari perhatian wajah baru Jalan Cikapundung Timur tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: