Archive | November, 2015

KRITIK ARSITEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

  1. KRITIK TYPIKAL

Definisi

Kritik Tipikal/Kritik Tipical (Typical Criticism) adalah sebuah metode kritik yang termasuk pada kritik Kritik Normatif (Normative Criticism). Kritik Tipikal yaitu metode kritik dengan membandingkan obyek yang dianalisis dengan bangunan sejenis lainnya, dalam hal ini bangunan publik.

 

Hakikat Metode Kritik Typical

  • Studi tipe bangunan saat ini telah menjadi pusat perhatian teoritikus dan sejarawan arsitektur karena desain menjadi lebih mudah dengan mendasarkannya pada type yang telah standard, bukan pada innovative originals (keaslian inovasi)
  • Studi tipe bangunan lebih didasarkan pada kualitas, fungsi (utility) dan ekonomi lingkungan arsitektur yang telah terstandarisasi dan terangkum dalam satu typologi
  • Menurut Alan Colquhoun (1969), Typology & Design Method, in Jencks, Charles, “Meaning in Architecture’, New York: G. Braziller : Type pemecahan standard justru disebut sebagai desain inovatif. Karena dengan ini problem dapat diselesaikan dengan mengembalikannya pada satu convensi (type standard) untuk mengurangi kompleksitas.
  • March, Lionel and Philip Steadman (1974), The Geometry of Environment, Cambridge : MIT Press, bahwa pendekatan tipopolgis dapat ditunjukkan melalui tiga rumah rancangan Frank Lloyd Wright didasarkan atas bentuk curvilinear, rectalinear dan triangular untuk tujuan fungsi yang sama.
  • Typical Criticsm diasumsikan bahwa ada konsistensi dalam pola kebutuhan dan kegiatan manusia yang secara tetap dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan lingkungan fisik

 

Elemen Kritik Typical

  • Struktural

(Struktur) Tipe ini didasarkan atas penilaian terhadap lingkungan berkait dengan penggunaan material dan pola yang sama.

  • Jenis bahan
  • Sistem struktur
  • Sistem Utilitas dan sebagainya.
  • Function (Fungsi)

Hal ini didasarkan pada pembandingan lingkungan yang didesain untuk aktifitas yang sama. Misalnya sekolah akan dievaluasi dengan keberadaan sekolah lain yang sama.

  • Kebutuhan pada ruang kelas
  • Kebutuhan auditorium
  • Kebutuhan ruang terbuka dsb.
  • Form (Bentuk)
  • Diasumsikan bahwa ada tipe bentuk-bentuk yang eksestensial dan memungkinkan untuk dapat dianggap memadai bagi fungsi yang sama pada bangunan lain.
  • Penilaian secara kritis dapat difocuskan pada cara bagaimana bentuk itu dimodifikasi dan dikembangkan variasinya.
  • Sebagai contoh bagaimana Pantheon telah memberi inspirasi bagi bentuk-bentuk bangunan yang monumental pada masa berikutnya.

Menurut Mc. Donald (1976), The Pantheon, Cambridge: Harvard : Secara simbolis dan ideologis Pantheon dapat bertahan karena ia mampu menjelaskan secara memuaskan dalam bentuk arsitektur, segala sesuatunya secara meyakinkan memenuhi kebutuhan dan inspirasi utama manusia. Melalui astraksi bentuk bumi dan imaginasi kosmos dalam bentuk yang agung. Arsitek Pantheon telah memberi seperangkat simbol transedensi agama, derajad dan kekuatan politik.

 

            Contoh Analisis Bangunan yang Menggunakan Metode Kritik Typikal

  1. Obyek yang dianalisis : Depok Town Square

Bangunan pembanding sejenis      : Cilandak Town Square

1

Depok Town Square (Detos)

2

Cilandak Town Square (Citos)

Depok Town Square adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan Margonda Raya, Depok. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di Depok.

Cilandak Town Square adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di daerah Cilandak. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan untuk berbelanja bagi penduduk yang bermukim di daerah Jakarta Selatan.

Dalam hal ini Citos merupakan salah satu Town Square pertama yang berdiri di kota Jakarta dan telah banyak menginspirasi bangunan publik sejenisnya dalam hal perancangan arsitekturnya. Maka dari itu dengan menggunakan metode kritik tipikal akan dibandingkan kedua bangunan public sejenis ini dengan parameter yang disediakan sehingga dapat diketahui apakah Detos sudah memenuhi standar untuk menjadi sebuah Town Square di kota Depok.

  • Keterangan :

Detos : Depok Town Square

Citos   : Cilandak Town Square

  • Elemen Struktur :
  • Jenis Bahan;
  • -Detos :

Fasad bangunan        : kaca, beton dan besi

Struktur                     : kolom dan balok beton

Plat Lantai                 : keramik marmer

  • -Citos :

Fasad bangunan        : kaca dan beton

Struktur                     : kolom dan balok beton

Plat Lantai                 : plat beton dengan finishing cat

3

Interior Depok Town Square

4

Interior Cilandak Town Square

  • Sistem Struktur

Detos  : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang

Citos    : kolom dan balok beton dengan pondasi tiang pancang

  • Sistem Utilitas

Detos  : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar.

Citos    : sistem utilitas terlihat baik, dan fasilitas pendukung ruangan seperti ac, listrik dan supply air semua berjalan dengan lancar hanya saja kebersihan dan keterawatannya jauh lebih baik dari Detos.

  • Fungsi Bangunan

Detos  : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke pusat perbelanjaan. Oleh karena itu Detos memiliki banyak kios-kios untuk disewakan dibandingkan dengan Citos.

Citos    : Bangunan komersial yang lebih mengarah ke tempat hang-out(berkumpul). Memiliki banyak cafe dan restoran dengan konsep interior yang baik.

  • Bentuk Bangunan

Detos  : Bentuk bangunan terlihat masif dan perancangannya lebih mengutamakan space untuk ruang dalam yang luas(memaksimalkan lahan untuk bangunan). Untuk memberikan efek modern dan asimetris pada fasad diberikan bentukan-bentukan yang unik dengan menggunakan material  yang bervariasi baik warna dan jenisnya.

5

Fasad Depok Town Square

Citos    : Bentuk bangunan memanjang (linier) dan lebih mengutamakan perancangan ruang terbukanya, perancangan interior terlihat lebih terbuka dan sadar lingkungan dengan banyaknya teras dan balkon serta awning polikarbonat yang memberikan pencahayaan alami ketika siang hari.

6

Fasad Cilandak Town Square

Kesimpulan

Dari hasil analisis dengan metode tipikal didapat hasil bahwa bangunan Detos sudah cukup memenuhi kriteria untuk menjadi bangunan publik berdasarkan cukup banyaknya hasil yang sama dari parameter yang dijadikan standar. Citos sebagai bangunan Town Square yang pertama ada di Jakarta telah memberikan inspirasi bagi Depok Town Square untuk mengadopsi nilai-nilai dalam perancangan sebuah Town Square. Ada pun yang masih perlu diperhatikan adalah perancangan ruang terbuka harus diperhatikan agar kesan Town Square semakin terlihat.

Kelebihan Kritik Typikal

  • Desain dapat lebih efisien dan dapat menggantungkan pada tipe tertentu
  • Tidak perlu mencari lagi panduan setiap mendesain
  • Tidak perlu menentukan pilihan-pilihan visi baru lagi
  • Dapat mengidentifikasi secara spesifik setiap kasus yang sama
  • Tidak memerlukan upaya yang membutuhkan konteks lain

 

Kekurangan Kritik Typikal

  • Desain hanya didasarkan pada solusi yang minimal
  • Sangat bergantung pada tipe yang sangat standard
  • Memiliki ketergantungan yang kuat pada satu type
  • Tidak memeiliki pemikiran yang segar
  • Sekadar memproduksi ulang satu pemecahan

 

Akibat yang Ditimbulkan Kritik Typikal

  • Munculnya Semiotica dalam arsitektur, satu bentuk ilmu sistem tanda (Science of sign systems) yang mengadopsi dari tipe ilmu bahasa. Walaupun kemudian banyak pakar menyangsikan kesahihan tipe ini. Dan menyebut Semiotica dalam arsitektur sebagai bentuk PSEUDO THEORITIC
  • Munculnya Pattern Language sebagaimana telah disusun oleh Christoper Alexander
  • Banyak penelitian yang mengarah pada hanya sekadar penampilan bentuk bangunan
  • Lahirnya arsitektur yang tidak memiliki keunikan dan bangunan yang bersifat individual.
  • Munculnya satu bentuk tipikal arsitektur yang eternal dan menguasai daya kreasi perancang
  • Lahirnya periode historis suatu konsep menjadi sebuah paham yang bersifat kolektif

 

REFERENSI

http://raziq_hasan.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/11126/kritik+typikal.pdf.

http://nurulrosidah.blogspot.co.id/2015/02/kritik-arsitektur-analisis-bangunan_9.html

 

Advertisements

KRITIK ARSITEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

  1. KRITIK TERUKUR

Definisi

Sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif. Metode kritik dengan melihat ukuran dan besaran ruang yang digunakan dalam sebuah bangunan dengan acuan standarisasi dengan bangunan lainnya. dan juga dapat mengacu pada standarisasi yang telat ditetapkan dalam Data Arsitektur (Neufert Architect’s Data) dan Time Saver.

Hakikat Metode Kritik Terukur

  • Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu.
  • Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam.
  • Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.
  • Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.
  • Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa : Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki Contoh : Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan, sempadan bangunan, Luas terbangun, ketinggian pagar yang diijinkan.
  • Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma Contoh : Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.
  • Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada ukuran minimum/maksimum, kondisi yang dikehendaki selalu merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.
  • Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut: Tujuan Teknis ( Technical Goals) Tujuan Fungsi ( Functional Goals) Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals)

 

Tujuan Teknis Metode Kritik Terukur

Kesuksesan bangunan dipandang dari segi standardisasi ukurannya secara teknis Contoh : Sekolah, dievaluasi dari segi pemilihan dinding interiornya. Pertimbangan yang perlu dilakukan adalah :

  • Stabilitas Struktur

– Daya tahan terhadap beban struktur

-Daya tahan terhadap benturan

-Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan

-Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem

  • Ketahanan Permukaan Secara Fisik

-Ketahanan permukaan

-Daya tahan terhadap gores dan coretan

-Daya serap dan penyempurnaan air

  • Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan

– Kebersihan dan ketahanan terhadap noda

-Timbunan debu

 

Tujuan Fungsi Metode Kritik Terukur

Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area yang dapat digunakan untuk aktifitas.

Pertimbangan yang diperlukan :

  • Keberlangsungan fungsi dengan baik
  • Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi
  • Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan
  • Kemudahan-kemudahan penggunaan,
  • Pencapaian dan sebagainya.

 

Tujuan Perilaku Metode Kritik Terukur

  • Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form
  • Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “ManEnvironment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik

  • Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

 

Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik

  • Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi
  • Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

 

Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia.

  • Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.
  • Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.
  • Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

 

Kelebihan Kritik Terukur

Metodenya terukur secara kuantitatif. Memiliki Pertimbangan yang diperlukan dalam tujuan fungsi metode kritik terukur.

Kekurangan Kritik Terukur

kegiatan pendapat atau tanggapan terhadap sesuatu hal yang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik buruknya hal tersebut , tetapi mengkritik biasanya lebih cenderung dikaitkan dengan hal-hal yang dinilai kurang baik atau buruk.

 

 

REFERENSI

http://blogfarin.blogspot.co.id/2010/12/analisis-bangunan-publik-di-depok.html

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/materi-kuliah/kritik-arsitektur/

 

KRITIK ARSITEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

 

  1. KRITIK NORMATIF

Definisi

Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip. Dan melalui ini kualitas dan kesuksesan sebuah lingkungan binaan dapat dinilai. Norma bisa jadi berupa standar yang bersifat fisik, tetapi adakalanya juga bersifat kualitatif dan tidak dapat dikuantifikasikan. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi. Sebagai contoh adalah slogan yang berkembang pada beberpa Negara dan berperan kuat terhadap perkembangan arsitektur seperti form follow function.

 

Metode Kritik Normatif

Karena kompleksitas, abstraksi dan kekhususannya kritik normatif perlu dibedakan dalam metode sebagai berikut :

  • Metoda Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)
  • Metoda Sistemik ( suatu norma penyusunan elemenelemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan)
  • Metoda Tipikal ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik)
  • Metoda Terukur ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif)

 

  • Metoda Kritik Doktrinal

Doktrin sebagai dasar dalam pengambilan keputusan desain arsitektur yang berangkat dari keterpesonaan dalam sejarah arsitektur.

  • Sejarah arsitektur dapat meliputi : Nilai estetika, etika, ideologi dan seluruh aspek budaya yang melekat dalam pandangan masyarakat.
  • Melalui sejarah, kita mengenal : Form Follow Function – Function Follow Form Form Follow Culture – Form Follow World View Less is More – Less is Bore Big is beauty – Small is beauty Buildings should be what they wants to be Building should express : Structure, Function, Aspiration, Construction Methods, Regional Climate and Material Ornament is Crime – Ornament makes a sense of place, genius loci or extence of architecture.
  • Doktrin bersifat tunggal dalam titik pandangnya dan biasanya mengacu pada satu ‘ISME’ yang dianggap paling baik. K E U N T U N G A N M E T O D A K

 

  • Kelebihan Metoda Kritik Doktrinal
  • Dapat menjadi guideline tunggal sehingga terlepas dari pemahaman yang samar dalam arsitektur
  • Dapat memberi arah yang lebih jelas dalam pengambilan keputusan
  • Dapat memberikan daya yang kuat dalam menginterpretasi ruang
  • Dengan doktrin perancang merasa bergerak dalam nilai moralitas yang benar
  • Memberikan kepastian dalam arsitektur yang ambigu
  • Memperkaya penafsiran

 

  • Kekurangan Metoda Kritik Doktrinal
  • Mendorong segala sesuatunya tampak mudah
  • Mengarahkan penilaian menjadi lebih sederhana
  • Menganggap kebenaran dalam lingkup yang tunggal
  • Meletakkan kebenaran lebih kepada pertimbangan secara individual
  • Memandang arsitektur secara partial
  • Memungkinkan tumbuhnya pemikiran dengan kebenaran yang “absolut”
  • Memperlebar tingkat konflik dalam wacana teoritik arsitektur

 

  • Sejarah Eksisting Doktrin
  • Utilitarian

-Doktrin yang mengacu pada progress harga

-Keputusan arsitektur pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas

  • Preservasionist

– Doktrin yang cenderung mengacu pada isme lama

-Berorientasi pada paham yang bersifat immateri

-Tidak berorientasi pada bahan atau material

  • Tidy Minded

– Doktrin yang mengacu pada keteraturan

-Tahap pengambilan keputusan yang sistematik

-Berpikir detail dan cermat sebelum melanjutkan pada langkah  berikutnya

  • The Improver

– Berpikir inovatif

– Menggali kemungkinan-kemungkinan baru dari kegagalan masa lalu

-Menyesuaikan pola-pola yang ada terhadap pola-pola baru yang muncul -Ada keinginan yang kuat untuk mempertinggi kualitas karena kebaruan

  • Kesimpulan dalam Metoda Kritik Doktrinal
  • Tidak etik menggunakan keberhasilan arsitektur masa lalu untuk bangunan fungsi mutakhir
  • Tidak etik memperlakukan teknologi secara berbeda dari yang dilakukan sebelumnya
  • Jika akan mereproduce objek yang muncul pada masa lalu untuk masa kini harus dipandang secara total dan dengan cara pandang yang tepat
  • Bahwa desain arsitektur selalu mengekspresikan keputusan desain yang tepat
  • Secara sosial bangunan akan tercela bila ia merepresentasikan sikap seseorang dan tidak didasarkan pada hasrat yang tumbuh dari kebutuhan masyarakatnya

 

REFERENSI

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/materi-kuliah/kritik-arsitektur/

 

KRITIK ARSITEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

 

  1. Kritik Impressionistik

Definisi

  • Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang
  • Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit
  • Kritik impressionis menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya
  • Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru dan berbeda
  • Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata.

 

Bentuk Metode Kritik Impresionistik

Kritik Impresionistik dapat berbentuk :

  • Verbal Discourse : Narasi verbal puisi atau prosa
  • Caligramme : Paduan kata membentuk silhouette
  • Painting : Lukisan
  • Photo image : Imagi foto
  • Modification of Building : Modifikasi bangunan
  • Cartoon : Focus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

Contoh Metode Kritik Impresionistik

  • NARASI VERBAL yang menggunakan ruang sebagai media berkarya.

THE ROOM

Day Lewis

Inilah dunia dimana saya bisa pergi

Dan menceritakan segala rahasiku kepadanya

Dalam kamarku …

Dalam dunia telah kukurung diriku

Dari seluruh kecemasan dan ketakutanku

Dalam kamarku …

Dapatkah mimpi-mimpiku dan seluruh rencanaku

Kubangun dan kumohonkan

Dapatkah tangis dan keluhanku

Terhibur seperti kemarin

Sekarang telah gelap dan aku sendiri

Tetapi aku tidak takut

Dalam kamarku….

  • Contoh lainnya metode kritik Impressionistik

a

b

Kelebihan Kritik Impressionistik

  • Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna
  • Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik
  • Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni
  • Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana
  • Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

 

Kekurangan Kritik Impressionistik

  • Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur
  • Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain
  • Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung
  • Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur.

 

REFERENSI

http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/raziq_hasan/materi-kuliah/kritik-arsitektur/

 

KRITIK ARSTEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

 

  1. KRITIK INTERPRETIF

Definisi

Karakteristik utama kritik interpretif adalah kritikus dengan metode sangat personal. Tindakannya bagaikan sebagai seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran sebagaimana yang terdapat pada kritik normatif. Kritik Interpretif punya kecenderungan karakteristik sebagai berikut :

  • Bentuk kritik cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.
  • Kritikus melalui kesan yang dirasakannya terhadap sebuah bangunan diungkapkan untuk mempengaruhi pandangan orang lain bisa memandang sebagaimana yang dilihatnya.
  • Menyajikan satu perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan (biasanya perubahan cara pandang dengan “metafor” terhadap bangunan yang kita lihat)
  • Melalui rasa artistiknya disadari atau tidak kritikus mempengaruhi orang lain untuk merasakan sama sebagaimana yang ia alami ketika berhadapan dengan bangunan atau lingkungan kota.
  • Membangun karya “bayangan” yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat kendaraan.

 

Metode Interpretif

Kritik interpretif dibagi dalam tiga metode sebagai berikut yaitu advokasi, evokasi dan impresionis.

  1. Kritik Advokasi
  • Kritik ini tidak diposisikan sebagai penghakiman (judgement) sebagaimana pada Normatif Criticism.
  • Bentuk kritiknya lebih kepada sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan
  • Isi kritik tidak mengarahkan pada upaya yang memandang rendah orang lain
  • Kritikus mencoba menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan
  • Kritikus membantu kita melihat manfaat yang telah dihasilkan arsitek melalui bangunannya dan berusaha menemukan pesona yang kita kira hanya sebuah objek menjemukan.
  • Dalam hukum kritik advokasi, kritiknya tercurah terutama pada usaha mengangkat apresiasi pengamat.
  1. Kritik Evokasi

K a r a k t e r i s t i k

  • Evoke : menimbulkan, membangkitkan
  • Ungkapan sebagai pengganti cara kita mencintai bangunan
  • Menggugah pemahaman intelektual kita atas makna yang dikandung bangunan
  • Membangkitkan emosi rasa kita dalam memperlakukan bangunan
  • Kritik evokatif tidak perlu menyajikan argumentasi rasional dalam menilai bangunan
  • Kritik evokatif tidak dilihat dalam konteks benar atau salah tetapi makna yang terungkap dan penglaman ruang yang dirasakan.
  • Mendorong orang lain untuk turut membangkitkan emosi yang serupa sebagaimana dirasakan kritikus
  • Kritik evokatif disampaikan dalam bentuk : naratif dan fotografi

– Kritik Naratif

Contoh : Kritik Peter Green (1974)

Perjalanan ke Bawah Tanah London

Ketika aku turun memasuki usus-ususmu London…

Melalui mulutmu yang lembab

Melalui bibirmu yang kering

Melalui ubinmu yang retak dan jalanmu yang penuh luka

Melalui eskalatormu yang tiada berujung

Bergerak menggelinding dalam temaram cahayamu

Bergelantung dalam kompartemenmu yang merana

Bergelantung melintasi seluruh kota

Bergelantung melintasi benua

Bergelantung sembari menggapai keseimbangan

Dan membaca dengan sebelah tangan koran-koran raksasa

Jiwa melemah menghirup lagi udara yang telah berpuluh-puluh kali dihirup

Aku mengelana dalam mimpi yang memuakkan

Melewati dinding-dindingmu yang kasar

Dan lorong-lorongmu yang bisu

Menari-nari berjejalan di sela tempat dudukmu yang mahal

Dan ruang dansa yang lurus membosankan

Di kerumunan teman yang tak pernah kukenal

Menuju keterasingan..

Musik yang tak berirama..

Kadang berdentum…

Kadang sunyi..

Diselingi cahaya yang melintas

Kadang terang berkilau

Kadang pendar temaram

Lintasanmu meliuk di bawah tanah

Menembus jalan-jalan sungai-sungai dan rumah-rumah

Kadang turun menghunjam naik menukik dan…

Kadang melata di tengah perut bumi..

Debu terbang di sela asapmu

Menyusup dan menyergap sesak napasku

Menggerincing di sepanjang lintasan listrikmu

Angkutan London…

Menyisakan kehangatan masa lalu

Di Sloane Square, seorang anak lai-laki melintas

Menggiring seekor sapi dengan tambatan

Sapi putih kecoklatan

Hidung besar kemerahan

Ekornya menari-nari mengibas serangga

Puttingnya membengkak

Menatap dengan mata mengkilap

Sementara hitam di luar jendela mulai merangkak

Dan mata dipenuhi oleh malam yang buta

Aku berdiri dalam hati yang mulai panas

Hening di tengah terowongan

Dan berdiri di atas kereta yang tak sempurna

Sisa debu kemarin masih menempel

Koran-koran berdesir mengumpulkan kesadaranku yang hamper hilang

Dan batuk-batuk gelisah masih belum reda juga

Kami harus menyusuri malam

Duduk kembali mengunci dalam kesendirian

Kepala terkulai lelap

Dengkur-dengkur kelelahan menyelinap dalam hening

Kelopak mata lelah kehilangan tenaganya

Lantai kereta….

Adalah lautan surat kabar, bungkus permen, puntung rokok dan kertas-kertas tisu

Sesekali sepeda motor di luar menderu melawan hiruk musik tak berirama

Lalu kembali sunyi

Dalam jam kami tak pernah tahu telah berapa lama waktu habis bersamanya di sana

Hari pasti telah berlalu

Dan wanita hamil menunggu di atas kaki letih dan kaku

Bau pesing keringat dan air seni berbaur menciptakan aroma baru

Hari tampak menunggu malam

Bintang berpendar di luar di sela garis hitam jendela

Pada jam lima pagi

Mereka bergerak kembali tanpa peringatan

Di Kensington Selatan..

Pintu-pintu terbuka

Mereka berhamburan bagai terlempar dalam tumpukan jerami

Angin sepoi dingin menyelinap melalui celah kereta

Ia kembali melintas seperti kemarin

Ia tak pernah lelah menyusuri seluruh kota, benua dan…

Seluruh tempat pijak peradaban manusia…

 

Fotografi :

Intensify (Kemudahan pemahaman)

1

Juxtaposition ( Penyandingan sesuatu yang kontras)

2

 

Ethereal (Suasana pemahaman yang mudah dari referensi)

3

Assosiation ( Pengkaitan dengan hal-hal lain yang eksotik)

4

   Momen of Thruth ( Momen kebenaran)

5

  1. Kritik Impresionis

      K a r a k t e r i s t i k

  • Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang. Impresi terhadap karya mempengaruhi perancang untuk membuat perubahan dan perkembangan dalam karya-karya berikutnya.
  • Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit karena seringkali menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya. Karya yang telah ada menjadi kendaraan untuk menghasilan karya seni lain melalui berbagai metode penyajian.
  • Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru yang berbeda. Begitu juga sebaliknya kritik akan membaerikan impresi bagi pengkayaan rasa, pengalaman dan apresiasi terhadap perkembangan teoritik ke depan.
  • Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata.
  • Kritik Impresionistik dapat berbentuk :

Verbal Discourse                     : Narasi verbal puisi atau prosa

Caligramme                             : Paduan kata yang membentuk silhouette

Painting                                               : Lukisan

Photo image                           : Imagi foto

Modification of Building                    : Modifikasi bangunan

Cartoon                                               : Focus pada bagian bangunan sebagai  lelucon

Contoh kritik impressionis (narasi verbal) yang menggunakan ruang sebagai media berkarya.

THE ROOM

Day Lewis

Inilah dunia dimana saya bisa pergi

Dan menceritakan segala rahasiku kepadanya

Dalam kamarku …

Dalam dunia telah kukurung diriku

Dari seluruh kecemasan dan ketakutanku

Dalam kamarku …

Dapatkah mimpi-mimpiku dan seluruh rencanaku

Kubangun dan kumohonkan

Dapatkah tangis dan keluhanku

Terhibur seperti kemarin

Sekarang telah gelap dan aku sendiri

Tetapi aku tidak takut

Dalam kamarku….

 6               7

Caliiagra                                                                           imagi

8        9

Modifikasi                                                                       Cartoon

     K euntungan  Kritik  I m p r e s s i o n i s

  • Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna
  • Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik
  • Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni
  • Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana
  • Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

 

Contoh Kritik Interpretif

Objek : Museum Serangga

Lokasi : Taman Mini Indonesia Indah

Museum Serangga di Taman Mini “Indonesia Indah” memiliki luas gedung 500 m2. Peresmian dan pembukaannya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, yaitu Bapak Soeharto dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-18 Taman Mini Indonesia Indah, tanggal 20 April 1993. Saat baru memasuki area museum, pengunjung akan disambut oleh gerbang Museum Serangga dan Taman Kupu yang bertengger baliho kupu-kupu sayap burung. Di depan pintu museum duduk patung kumbang tanduk raksasa dan sepasang daun pintu kaca patri bermotif kupu-kupu.

10

Gambar 1. Gambar Patung Kumbang Tanduk Raksasa

11

Gambar 2. Gambar Pintu Masuk Taman Kupu – Kupu

12

Gambar 3. Gambar Pintu MasukBangunan yang Terbuat dari

Kaca Patri yangBermotif Kupu – Kupu

Untuk ukuran sebuah museum, museum serangga di TMII ini memiliki ukuran yang kecil. Tetapi museum ini memiliki koleksi yang baik bagus dan terawat. Ruang pameran yang bersih, pencahayaan yang cukup baik, dan memiliki pendingin ruangan (meskipun pada saat saya berkunjung, hanya beberapa ruangan saja yang
terasa sangat dingin). Permasalahannya adalah tiket untuk mengunjungi museum serangga dengan museum air tawar dijadikan satu sehingga cukup menjadikannya museum dengan tarif masuk yang agak sedikit mahal.

13

Gambar 4. Gambar Kumpulan Berbagai Jenis Serangga dari Nusantara

14

Gambar 5. Gambar Peta Kupu – Kupu Di Indonesia

Koleksi museum terdiri sekitar 600 jenis serangga, didominasi oleh kupu-kupu (sekitar 250 jenis) dan kumbang (sekitar 200 jenis). Koleksi lain mencakup belalang ranting dan belalang daun, capung dancapung jarum, jangkrik dan gangsir, kecoak, ngengat, orong-orong/anjing tanah,kerabat tonggeret. Selain spesimen serangga awetan kering, museum menampilkan koleksi serangga hidup yaitu belalang ranting dan belalang daun. Seluruh koleksi dipamerkan dalam kotak kaca. Dengan pencahayaan dan penataan yang cukup baik.

15

16

17

Gambar 6. Gambar Beberapa Koleksi Museum Serangga

18

19

20

Gambar 7. Gambar Beberapa Pencahayaan yang Dimiliki Museum Serangga

Secara keseluruhan museum ini memang cukup terawat dan bagus, hanya saja dalam penataan tata ruang ataupun interior dan keseluruhan bentuk bangunan terlihat monoton.

Kelebihan Kritik Interpretif

Didalam kritik ini, tindakan seorang interpreter atau pengamat tidak mengklaim satu doktrin, sistem, tipe atau ukuran.

Kekurangan Kritik Interpretif

Hanya menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan.

REFERENSI

http://widyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/6741/KRITIK+INTERPRETASI.doc.

http://nuwlanuwla.blogspot.co.id/2013/02/kritik-rekaman-dari-tanggapan-terhadap.html

 

 

KRITIK ARSITEKTUR

4 Nov

Nama   : Sandra Desnia Erlita Putri

Kelas   : 4TB02

NPM   : 26312808

KRITIK  ARSITEKTUR

 

  1. KRITIK DESKRIPTIF

Definisi

Bersifat tidak menilai, tidak menafsirkan, semata-mata membantu orang melihat apa yang sesungguhnya ada.  Kritik ini berusaha mencirikan fakta-fakta yang menyangkut sesuatu lingkungan tertentu. Dibanding metode kritik lain descriptive criticism tampak lebih nyata(factual).

  • Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota
  • Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan.
  • Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya
  • Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

Jenis Metode Kritik Deskriptif :

  1. Kritik Depiktif Depictive Criticism (Gambaran bangunan)

Depictive kritik tidak dapat disebut kritik sepenuhnya karena tidak menggunakan pertanyaan baik atau buruk. Kritik ini focus pada bagian bentuk, material, serta teksture. Depictictive kritik pada sebuah bangunan jarang digunakan karena tidak menciptakan sesuatu yang controversial, dan dikarenakan cara membawakan verbal mengenai fenomena fisik jarang provocative atau seductive to menahan keinginan pembaca untuk tetap memperhatikan. Fotografi paling sering digunakan ketika ketelitian dalam penggambaran bahan bangunan diinginkan.

  • Static (Secara Grafis)

Memfokuskan pada elemen-elemen bentuk (form), bahan (material), dan permukaan (texture). Dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : fotografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata)

  • Dynamic (Secara Verbal)

Aspek dinamis depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan dibuat. Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui : Bagaimana manusia  bergerak melalui ruang-ruang sebuah bangunan? Apa yang terjadi disana? Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik? Bagaimana bangunan dipengaruhioleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?

  • Process (Secara Prosedural)

Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimanasebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu. Kalau kritik yang lain dibentuk melalui pengkarakteristikan informasi yang datang ketika bangunan itu telah ada, maka kritik depictive (aspek proses) lebih melihat pada langkah-langkah keputusan dalam proses desain yang meliputi :

Kapan bangunan itu mulai direncanakan dan Bagaimana perubahannya.

  1. Kritik Biografis Biographical Criticism (Riwayat Hidup)

Kritik yang hanya mencurahkan perhatiannya pada sang artist (penciptanya), khususnya aktifitas yang telah dilakukannya. Memahami dengan logis perkembangan sang artis sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya-karyanya secara spesifik.

  1. Kritik Kontekstual Contextual Criticism (Persitiwa)

Untuk memberikan lebih ketelitian untuk lebih mengerti suatu bangunan, diperlukan beragam informasi dekriptif, informasi seperti aspek-aspek tentang sosial, political, dan ekonomi konteks bangunan yang telah didesain.  kebanyakan kritikus tidak mengetahui rahasia informasi mengenai faktor yang mempengaruhi proses desain kecuali mereka pribadi terlibat. Dalam kasus lain, ketika kritikus memiliki beberapa akses ke informasi, mereka tidak mampu untuk menerbitkannya karena takut tindakan hukum terhadap mereka. Tetapi informasi yang tidak controversial tentang konteks suatu desain suatu bangunan terkadang tersedia.

Contoh kritik deskriptif menurut metoda gambaran bangunan:

  1. Guangzhou Opera House

Location: Guangzhou, Guangdong province, People’s Republic of China

Client: Gluangzhou Municipal Government

Architect: Zaha Hadid

Facade engineering: KGE Engineering (Zhuhai, China)

Structural engineers: SHTK (Shanghai, China); Guangzhou Pearl River Foreign Investment Architectural Designing Institute

Construction management: Guangzhou Construction Engineering Supervision Co. Ltd. (Guangzhou, China)

Size: 70 000 m2

Costs: 220 milion $

Year: 2003-2010

Seperti kerikil dalam aliran dihaluskan oleh erosi, Guangzhou Opera House berdiri dalam harmoni yang sempurna dengan lokasi di tepi sungai. The Opera House adalah jantung dari perkembangan kebudayaan Guangzhou. Desain batu kembarnya yang unik meningkatkan nilai kota dengan cara menghadapkannya ke Sungai Pearl, menyatukan bangunan budaya yang berdekatan dengan menara keuangan internasional di Zhujiang kota baru Guangzhou. Auditorium 1.800 kursi dari Opera House merupakan teknologi akustik yang sangat terbaru, dan ruang multifungsi 400 kursi yang lenih kecil dirancang untuk pertunjukan seni, opera, dan konser. Desain berkembang dari konsep pemandangan alam dan interaksi yang menarik antara arsitektur dan alam; terlibat dengan prinsip-prinsip erosi, geologi, dan topografi. Desain Guangzhou Opera House sangat dipengaruhi oleh lembah-lembah sungai dan cara mereka diubah oleh erosi. Lipat baris dalam lanskap ini menentukan wilayah dan zona dalam Opera House, memotong ngarai dramatis interior dan eksterior untuk sirkulasi, lobi dan kafe, dan memungkinkan cahaya alami untuk menembus jauh ke dalam gedung. Transisi halus antara unsur-unsur yang berbeda dan tingkat yang berbeda melanjutkan analogi lanskap ini. Cetakan khusus glass-fibre reinforced gypsum (GFRC) telah digunakan untuk interior auditorium untuk melanjutkan bahasa arsitektur fluiditas dan kelembutan.[http://www.freeformstructures.com/]

 

  1. Contoh dari kritik arsitektur dengan pendekatan kritik deskriptif metoda depictive criticism (gambaran bangunan), yaitu Dengan menjelaskan secara terstruktur bagian-bagian bangunan yang mampu menggambarkan keseluruhan bangunan Teater Jakarta.

 

Teater Jakarta

Pada awalnya proyek ini bernama Grand Theater di Taman Ismail Marjuki yang akhirnya berubah menjadi Teater Jakarta. Gedung teater ini merupakan kelanjutan dari proyek masterplan yang didesain oleh Raul Renanda bersama Altelier 6 pada tahun 1995. Pelaksaannya baru dimulai pada tahun 1996 dan selesai dapat digunakan pada tahun 2010. Konsep ini gabungan vernacular di Indonesia yang berdasarkan ide dari struktur bangunan Toraja yang juga merupakan konsep bangunan joglo sebagai potongan melintang dari bangunan teater ini. disajikan dalam tatanan modern namun masih mempunyai nafas Indonesia.

Desain Teater Jakarta

Maket Teater Jakarta

Tampak Depan Teater Jakarta

Tampak Samping Teater Jakarta

Perspektif Teater Jakarta

Detail Teater Jakarta

Ruang dengan kapasitas 1200 penonton dengan luas panggung 14 – 16 meter (w) dan 7 – 9 meter (h) dapat digunakan untuk berbagai pertunjukan (musik, teater, tari dll). Dilengkapi dengan ruang lobby, 12 ruang rias, ruang latihan serta sistem tata cahaya, tata suara, sistem auditorium dan pendingin ruangan.

Interior Teater Jakarta

Kelebihan Kritik Deskriptif

Dengan kritik ini kita bisa mengetahui suatu karya sampai seluk beluknya. Metode dari deskripsi ini dapat di kritisi secara induktif, dari hal yang umum ke khusus ataupun deduktif dari hal yang khusus ke umum. Metode kritik ini tidak bertujuan untuk pengembangan karya selanjutnya seperti metode impresionis yang menggunakan hasil kritik untuk karya selanjutnya.

Kekurangan Kritik Deskriptif

Hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.

REFERENSI

https://iramuakhadahanisa.wordpress.com/2013/02/11/kritik-deskriptif/

http://aswelquchink.blogspot.co.id/2013/02/kritik-arsitektur.html

http://dhikarusmen.blogspot.co.id/2014/01/kritik-deskriptif-arsitektur.html

http://dokumen.tips/documents/kritik-arsitektur-55a4d1de7ba80.html

http://istnamerivaaa.blogspot.co.id/2015/02/kritik-arsitektur.html

http://www.rumpunnektar.com/2013/02/membuat-resensi-buku.html