Archive | December, 2013

ISU LINGKUNGAN

4 Dec

Perubahan cara kita mengelola lahan dan masalah yang ditimbulkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir menjadi dua isu lingkungan terpenting abad 21. 

Perbaikan dramatis pada cara kita mengelola lahan dan memilih energi menjadi kunci kesuksesan memasok makanan, menghemat air dan mengatasi masalah perubahan iklim pada abad 21.

Hal ini terungkap dalam Buku Tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP’s Year Book) 2012 yang diterbitkan minggu lalu. Menurut UNEP, selama 25 tahun terakhir, sebanyak 24% wilayah daratan dunia sudah mengalami penurunan kualitas dan produktifitas akibat pola pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan.

Cara bertani dan mengolah lahan konvensional yang eksploitatif memicu erosi tanah 100 kali lipat lebih cepat dibanding cara alam membentuknya.

Pada 2030, jika kita tidak mengubah cara kita mengelola lahan, lebih dari 20% habitat di darat seperti hutan, rawa-rawa dan padang rumput di negara berkembang, akan segera berubah menjadi lahan garapan.

Hal ini akan menyebabkan kerusakan parah pada keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem penting seperti material, air dan energi yang kita gunakan.

Dampak cara kita mengelola lahan terhadap perubahan iklim juga sangat besar. Tanah mengandung bahan-bahan organik yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dalam jumlah besar. Bahan-bahan organik ini juga berfungsi sebagai pengikat nutrisi yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan memungkinkan tanah meyerap air hujan.

Sejak abad ke-19, sekitar 60% karbon yang tersimpan di tanah dan tanaman hilang akibat perubahan penggunaan lahan, seperti untuk lahan pertanian dan pemukiman penduduk.

Tanah di dunia sedalam satu meter, diperkirakan menyimpan 2.200 Gigaton atau 2.200 miliar ton karbon – lebih banyak dibanding jumlah karbon yang tersimpan di atmosfer.

Jika cara pengelolaan lahan tradisional berlanjut, karbon-karbon ini akan terlepas ke atmosfer yang akan memerparah pemanasan global yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fossil.

Kerusakan pada lahan-lahan gambut saat ini memroduksi lebih dari 2 Gt emisi karbon dioksida (CO2) per tahun – setara dengan 6% emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia. Dan tingkat kerusakan lahan gambut saat ini 20 kali lipat lebih cepat dibangkit kapasitas lahan gambut untuk menyimpannya.

Buku tahunan yang diluncurkan empat bulan sebelum Pertemuan Rio+20 ini juga membahas tantangan besar untuk menon-aktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sudah berakhir masa pakainya.

Dalam sepuluh tahun ke depan, jumlah PLTN diperkirakan akan bertambah 80 unit. Pada saat yang sama, PLTN generasi pertama juga akan berakhir masa pakainya.

Terhitung Januari 2012, sebanyak 138 PLTN akan dinon-aktifkan di 19 negara, termasuk 28 di Amerika Serikat, 27 di Inggris, 27 di Jerman, 12 di Perancis, 9 di Jepang dan 5 di Federasi Rusia. Namun dari semua PLTN yang akan dinon-aktifkan tersebut hanya 17 yang sudah berhasil dinon-aktifkan dengan aman.

Negara-negara maju kini juga tengah meninjau kembali program nuklir mereka sejak terjadinya tragedi tsunami yang merusak PLTN di Fukushima dan wilayah lain di Jepang pada 2011.

Sementara jumlah negara berkembang yang berencana membangun PLTN baru semakin banyak dan PLTN tua yang akan dinon-aktifkan juga terus bertambah.

Menurut UNEP, biaya untuk menon-aktifkan PLTN tergantung dari tipe, ukuran, kondisi dan lokasi reaktor serta kedekatannya ke fasilitas pembuangan limbah nuklir.

Di Amerika Serikat, biaya rata-rata untuk menon-aktifkan PLTN mencapai 10-15% dari modal awal. Sementara di Perancis, dalam kasus reaktor Brennilis, biayanya mencapai 60% dari modal biaya pendirian. Biaya ini diperkirakan akan terus meningkat pada masa datang.

Menurut Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP, dua masalah besar di atas – yaitu tata kelola lahan dan penon-aktifan PLTN – akan menentukan masa depan dunia. “Pertanyaannya adalah, apakah dunia nanti mampu memerangi dampak perubahan iklim dan mengatasi limbah berbahaya termasuk limbah nuklir,” ujarnya.

Untuk itu dunia perlu memertimbangkan masak-masak cara mereka memilih energi dan mengelola lahan. Semua demi keselamatan dan kesehatan generasi mendatang.

 

 

Referensi:

http://www.hijauku.com/2012/02/18/inilah-isu-isu-lingkungan-terpenting-abad-21/

Redaksi Hijauku.com

Advertisements

PENGALAMAN TENTANG LINGKUNGAN

4 Dec

engan tubuhnya yang sudah mulai terlihat termakan usia, Babah Akong berdiri tegap memandangi hamparan tanaman mangrove yang sudah mulai menutupi sebagian garis pantai di dekat rumahnya. Pada hamparan yang lebih ke arah daratan, ribuan bibit mangrove sudah mulai ditanam kembali, bersambung dengan tegakan mangrove yang telah lebih dulu ditanam sekitar 15 – 20 tahun yang lalu. Pikirannya kembali menerawang ke tahun 1992 ketika ombak besar tsunami menerjang wilayah pesisir pulau Flores.  Kabupaten Sikka, dimana beliau tinggal, adalah salah satu wilayah yang paling parah terkena hantaman tsunami tersebut. Secara keseluruhan, hampir 2.000 orang menjadi korban, dan tak terhitung lagi rumah dan fasilitas masyarakat dan pemerintah yang terletak di pinggir pantai terbuka yang hancur diterpa terjangan gelombang besar tersebut.

Tak ingin kembali mengalami kerusakan dan berbagai kerugian akibat kejadian yang sama, maka Babah Akong, yang memiliki nama lengkap Victor Emmanuel,   bertekad untuk melakukan kegiatan nyata yang dapat menolong kehidupan keluarga dan para tetangganya. Sadar bahwa terjangan ombak besar atau tsunami adalah merupakan kejadian alam yang tidak bisa dicegah oleh manusia, maka Babah Akong memutuskan untuk melakukan kegiatan yang dapat mengurangi akibat buruk dari kejadian alam tersebut, yaitu menanam tanaman mangrove di sepanjang garis pesisir di Desa Reroroja, Kabupaten Sikka. Sedikit demi sedikit, dengan dukungan dari keluarga, akhirnya tidak kurang dari 60 hektar lahan berhasil ditanami mangrove, yang kini terlihat subur dan tumbuh dengan baik. Pada saat yang bersamaan, Babah Akong juga giat memberikan penyuluhan mengenai kepentingan mangrove bagi kehidupan manusia.

ImageBabah Akong sedang menerima hadiah Kalpataru dari Presiden SBY

Kerja keras dan pengorbanan waktu, harta (sampai harus menjual perhiasan istrinya) serta tidak jarang cibiran dari mereka yang belum mengerti tujuan dari upaya yang dilakukannya, akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2009 memutuskan memberikan Penghargaan Presiden berupa Piala Kalpataru untuk Babah Akong sebagai Pengabdi Lingkungan. Sejak itu, beliau kemudian menjelma menjadi pahlawan lokal yang upayanya mulai dikenal dan dihargai, baik  oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.

ImageMangrove di Cagar Alam Pulau Dua

Nun jauh di tanah Jawa, tepatnya di Desa Sawah Luhur, Kota Serang, Banten, yang terpisahkan dengan jarak sekitar 2.000 kilometer, seorang pahlawan lain juga telah mengabdikan dirinya untuk kelestarian lingkungan pesisir. Haji Madsahi, demikian beliau biasa dipanggil, adalah seorang abdi negara yang bekerja sebagai Jagawana (penjaga hutan) di kawasan Cagar Alam Pulau Dua, Banten. Pada akhir tahun 1970an, ketika usianya masih di awal 20an, Haji Madsahi muda memulai pengabdiannya sebagai sukarelawan untuk menjaga kawasan Pulau Dua, yang sejak tahun 1930an sudah dikenal sebagai surga sekaligus rumah bersalin bagi ribuan pasang burung air dari berbagai jenis. Saat itu Pulau Dua benar-benar masih berupa pulau, yang terpisah dari pulau Jawa. Kecintaannya terhadap burung air serta keinginan besarnya untuk melestarikan tempat hidup burung air, yang berupa kawasan mangrove, telah memotivasi Haji Madsahi untuk tidak hanya bekerja business as usual. Diluar tugas utamanya untuk menjaga kawasan, pria yang tidak memiliki penghasilan tetap tersebut  juga mulai melakukan penanaman mangrove di sekitar kawasan yang dijaganya. Sama seperti Babah Akong, apa yang dilakukan oleh Haji Madsahi tersebut awalnya sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat, yang bahkan menganggapnya sebagai orang yang kurang kerjaan. Dengan ketekunan, rasa tanggung jawab serta keinginannya untuk berbuat yang terbaik bagi alam dan lingkungan, tidak sampai 10 tahun hasil karyanya sudah terlihat berupa kawasan hijau yang ditumbuhi Avicenia marina, sehingga Pulau Dua-pun kemudian terhubung dengan Pulau Jawa, dan tak lagi menjadi pulau yang terpisah. Tegakan mangrove yang barupun kemudian seakan menyediakan tambahan habitat yang sangat mendukung bagi burung-burung air untuk berbiak di pulau tersebut. Berkahpun kemudian menghampirinya, pemerintah memutuskan untuk mengangkatnya sebagai PNS, dan bahkan Presiden Suharto memberinya hadiah Kalpataru sebagai pengabdi lingkungan. Beliaupun kemudian diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji atas biaya pemerintah. Sejak itu, sejalan dengan makin banyaknya burung-burung air yang beranak pinak di Pulau Dua, semakin banyak pula perhatian untuk Haji Madsahi. Tak jarang beliau harus melayani wawancara dari berbagai media di dalam maupun luar negeri, memberikan ceramah untuk pengunjung ataupun memberikan pelatihan mengenai cara membibitkan dan menanam  mangrove.

Bagi Babah Akong dan Haji Madsahi, tentu bukan berbagai penghargaan itu yang kemudian membesarkan hati mereka berdua. Mereka merasa lebih terpacu untuk berbuat lebih baik setelah mengetahui bahwa segala upayanya selama ini kemudian diikuti oleh masyarakat sekitar yang mulai menyadari bahwa menanam mangrove bukan hanya merupakan upaya untuk menolong alam, tetapi lebih jauh adalah justru untuk menolong diri mereka sendiri. Masyarakat mulai mengerti bahwa melakukan rehabilitasi kawasan pesisir yang telah mengalami kerusakan pada dasarnya adalah mengembalikan peran dari ekosistem pesisir, khususnya mangrove, untuk menyediakan kembali jasa lingkungan – jasa ekosistem (Environment service – ecosystem service), yang pada akhirnya akan dinikmati oleh masyarakat untuk kesejahteraan mereka sendiri.

Pada saat berbicara mengenai jasa ekosistem, atau lebih luas lagi sebagai jasa lingkungan, maka kita akan berbicara lebih dari sekedar nilai ekonomi. Jasa lingkungan menyediakan berbagai “bonus” yang dapat dinikmati, meskipun itikad awal dari kegiatan yang dilaksanakan adalah untuk memperoleh keuntungan secara ekonomi. Misalnya saja terkait dengan kegiatan rehabilitasi kawasan pesisir, dengan cara penanaman mangrove, meskipun keuntungan ekonomi fisik yang dapat dibayangkan adalah berupa batang kayu mangrove yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan, namun banyak “bonus” jasa lingkungan lain yang bisa didapatkan, mengiringi keuntungan ekonomi fisik tersebut. Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kembali berfungsinya kawasan pesisir ber-mangrove sebagai tempat berpijah dari berbagai jenis ikan dan terutama udang-udangan. Dari perspektif lain, mangrove dapat memberikan jasa lingkungan untuk mengurangi resiko bencana sekaligus ruang untuk adaptasi perubahan iklim. Mangrove diketahui tidak hanya dapat mengurangi dampak dari ombak besar tsunami, tetapi mangrove yang tumbuh baik juga secara ekologis berfungsi untuk menahan gempuran badai, mengurangi intrusi air laut ke daratan, mengurangi terjadinya abrasi di wilayah pesisir serta dapat menciptakan iklim mikro yang lebih menyenangkan bagi manusia untuk ditinggali.

Pekerjaan dan usaha Babah Akong dan Haji Madsahi saat ini telah terlihat hasilnya dengan nyata. Banyak pihak yang telah mengakui kegigihan maupun manfaat dari upaya yang dilakukannya. Namun demikian, tidak berarti bahwa usaha sudah selesai, yang terjadi justru itu adalah baru merupakan awal dari kegiatan yang jauh lebih besar.  Desa Reroroja di Flores adalah merupakan bahagian kecil dari Kabupaten Sikka yang memiliki luas daratan lebih dari 1.700 km2 serta luas lautan lebih dari 5.800 km2. Belum lagi wilayah Flores yang terdiri dari beberapa kabupaten dengan luas daratan serta garis pesisir yang jauh lebih panjang. Di satu sisi, ekosistem pesisir yang panjang membentang tersebut merupakan potensi sumber daya alam produktif yang memiliki potensi ekonomi luar biasa besar serta menjaga kestabilan wilayah daratan di sekitarnya.  Namun di sisi lainnya, wilayah pesisir Flores, khususnya Kabupaten Sikka dan Ende sangat rawan terhadap bencana alam. Kawasan tersebut  merupakan wilayah yang telah berulang kali tertimpa bencana alam, seperti tsunami, banjir, tanah longsor, puting beliung maupun abrasi di wilayah pesisir. Berbagai bencana tersebut telah menyebabkan hilangnya aset dan fasilitas yang membantu masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari, dan lebih dari itu juga menurunkan fungsi ekosistem dalam menyediakan jasa ekosistem.

ImageHaji Madsahi di depan kawasan yang telah lebih dari 30 tahun dijaganya

Di Teluk Banten, usaha Haji Madsahi juga belum selesai. Bagian barat pulau terancam semakin menyempit akibat adanya abrasi, sementara pohon mangrove juga semakin jarang di lokasi pertambakan yang menjadi tempat burung air mencari makan. Lebih mengkhawatirkan lagi karena berbagai kegiatan pembangunan kemudian akan mengikis fungsi mangrove sebagai penyangga masuknya air asin lebih jauh ke daratan, yang menjadi tempat manusia tinggal.

Mengandalkan kedua Pahlawan tersebut untuk merestorasi kawasan disekitar mereka tinggal, atau syukur-syukur di tempat yang lebih luas, tentulah tak lagi realistis. Tak diragukan lagi bahwa mereka masih memiliki semangat yang sama, namun usia tentulah merupakan sunatullah yang juga tak bisa diabaikan. Dengan demikian, diperlukan adanya upaya lain untuk dapat melakukan berbagai kegiatan yang dapat meneruskan  inisiatif yang telah mereka lakukan, dan menularkannya kepada masyarakat sekitar mereka. Disisi lain, diperlukan pula kegiatan untuk memberikan pengayaan informasi mengenai fungsi ekosistem yang akan direstorasi, serta berbagai manfaat jangka panjang berkelanjutan  yang akan diperoleh. Bagi masyarakat, hal ini dapat dilaksanakan dibarengi dengan pemberian insentif yang dapat membantu peningkatan mata pencaharian keluarga mereka.

Tentu tak mudah untuk melakukannya, tetapi juga bukan tak mungkin. Ada banyak contoh yang bisa dirujuk, termasuk yang kami lakukan sendiri dibawah tajuk Partners for Resilience. Kegiatan yang kami lakukan di Nusa Tenggara Timur dan Banten selama periode 2012 – 2015, meskipun terlalu awal untuk disebut berhasil, tetapi telah mulai memperlihatkan hasil yang diharapkan, terutama terkait dengan kegiatan penanaman mangrove dan, yang terpenting, adalah bagaimana masyarakat bisa sepenuhnya terlibat dalam inisiatif dan pelaksanaan kegiatan. Hal ini tentu saja cukup menggembirakan, karena setelah kegiatan proyek selesai kemudian masyarakat dapat melanjutkan untuk mencapai hasil yang diinginkan oleh mereka sendiri.

terima kasih untuk Babah Akong dan Haji Madsahi serta masyarakat desa Reroroja dan Sawah Luhur yang berbaik hati mau menerima kami serta berbagi ilmu, pengalaman dan kebijaksanaan …

Dikutip Dari:

http://ecodien.wordpress.com/2013/06/20/itikad-restorasi-lingkungan-membutuhkan-contoh-pemahaman-dan-pengalaman/